Linna_Fun_bLoG











{Desember 27, 2007}   BAND INDIE

Menunggu Era Pencerahan
Band-band Indie Asal Yogya

 

Tidak lama lagi, Yogyakarta sepertinya bisa mendapat predikat baru sebagai gudangnya band indie. Iklim untuk itu sudah mulai tercipta. Namun, bagaimana dengan kualitas band indie asal Yogyakarta?

 Jawabannya bisa jadi sudah ditemukan jika kita sempat melihat Final Regional LA Lights Indiefest yang digelar di Lapangan Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (5/8) lalu. Dalam ajang tersebut nyata terlihat kualitas band indie asal Yogyakarta. Mereka tidak kalah jika disandingkan dengan band-band indie asal Jakarta, Surabaya, atau Bandung, yang menjadi barometer musik Tanah Air. Spektakuler, dari 40 band indie yang lolos Final Regional LA Lights Indiefest ini, 16 di antaranya datang dari Yogyakarta.

Sebanyak 24 band yang lain datang dari Bandung dan Surabaya, masing- masing 12 band. Namun, mereka sudah tampil di kota masing-masing sebelumnya. Dari 40 band peserta, lalu diseleksi 12 band untuk masuk ke album kompilasi LA Light Indiefest bekerja sama dengan Fast Forward Records. Iklim yang lebih bersahabat dan peluang bagi band-band indie asal Yogyakarta tampaknya banyak dibuka oleh Sheila On 7, tahun 1998 lalu. Kesuksesan SO7 yang juga berangkat dari jalur indie ini menjadi magnet luar biasa. Band-band indie di Yogyakarta biasanya mengawali jalan panjang mereka dengan mengirim demo-demo lagu ke stasiun radio. Misalnya Geronimo yang memiliki Ajang Musikal yang diputar seminggu sekali. Selain Geronimo, Swaragama, Prambors FM, dan Star FM juga punya acara serupa. “Ajang Musikal sudah ada sejak tahun 1996. Di sini kami memutar 20 lagu dari 10 band indie asal Yogyakarta. Masing-masing band kami putarkan dua lagunya.

Namun, lagu yang bisa naik tentu yang sesuai style kami,” ujar Henky, Promotion Staff Geronimo. Yang fantastis adalah setiap hari Geronimo minimal menerima kiriman demo dari 10 band indie. Bisa dibayangkan berapa tumpukan demo yang menanti giliran untuk diputar. Dan susahnya, demo band-band yang mayoritas digawangi kaum mahasiswa ini rata-rata bagus secara musikal dan hampir semua layak putar. Menyoal tentang band indie jelas berbicara tentang duka dan kesusahan. Predikat sebagai indie label jelas beda dengan band di jalur major label yang relatif mapan dengan dukungan finansial yang memadai. Memang ada band-band indie idealis, namun banyak juga yang ingin menembus major label. Kualitas band indie Yogyakarta sudah terkenal sampai kota-kota tetangga di Jawa Tengah. Hanya saja, untuk maju, kualitas mesti diimbangi dengan link yang luas. Inilah problemnya karena Yogyakarta bisa dikata minim produser rekaman. Beda dengan Kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Itu pun mesti berdamai dengan aliran musik band indie yang rata-rata kurang sejalan dengan selera produser rekaman. Itu karena, band-band indie bersikukuh dengan aliran musik mereka. Tidak mau dipengaruhi pasar. Coba saja simak Airport Radio, salah satu dari 16 band yang tampil di Final Regional LA Lights Indiefest. Bagi telinga awam, mungkin sulit mencerna musik dari band yang tidak memakai gitar ini. Begitu juga ketika mencerna twee pop dari Plasticdolls yang banyak main di nada-nada minor. Twee pop ini sendiri, diterangkan personelnya, adalah pop yang simpel dan minimalis. “Seperti kita sedang ada di tanah lapang yang sunyi. Namun, kadang- kadang terdengar nada-nada riuh di sekitar,” kata Bennet dan Ade, dua personel Airport Radio, mencoba menerjemahkan musik Airport Radio yang diistilahkan penggemarnya sebagai dark wave pop ini. Selain dari sisi musik, perjalanan band indie sendiri juga biasa bersahabat dengan hal yang tidak enak.

Seperti hanya dibayar dengan snack dan akomodasi ketika manggung. Bahkan, ada cerita sedih dan lucu dialami Jogiest, satu band indie di Yogyakarta. Jogiest seusai konser amal di Lampung ternyata tidak disediakan tiket pulang dari panitia. Tiket akhirnya memang didapat, tapi itu dibelikan wali kota setempat. Terlepas dari cerita-cerita seperti itu, band-band indie Yogyakarta memang menuju masa depan. Ke dalam memang sudah ada stasiun radio, dan juga wadah semacam Indie Raising Club.

Namun, ke luar, mereka jelas perlu kesempatan seperti LA Lights Indiefest, atau festival semacam itu sehingga band-band indie yang rekaman bareng (dalam album kompilasi) bersama band yang sudah mapan dan punya nama nantinya bisa punya album sendiri.



Tinggalkan Balasan

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.

dan lain-lain